Profile

Categories

Tag





Apr

08

 

"Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-NYA.
Setiap waktu Dia dalam kesibukan"
. [QS. Ar-Rahmaan : 29]
Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang
menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru, "Ya Allah !"
Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir; kendaraan menyimpang
jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya,
mereka akan menyeru, "Ya Allah !"
Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka
yang tertimpa akan selalu berseru, "Ya Allah !"
Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir permohonan
digeraikan, orang-orang mendesah, "Ya Allah !"
Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa
menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka
pun menyeru , "Ya Allah !"
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup
dan jiwa serasa seolah tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus
Anda pikul, menyerulah, "Ya Allah ! "
Ku ingat Engkau saat alam begitu gelap gulita,
dan wajah zaman berlumuran debu hitam
Kusebut nama-MU dengan lantang di saat fajar menjelang,
dan fajarpun merekah seraya menebar senyuman indah.
Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang
menetes penuh ke ikhlasan, dan semua keluhan yang menggundah-
gulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-NYA.
Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan,
julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke
arah-NYA untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain
hanya untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-NYA.
Dengan begitu, hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi
menegang, dan iman kembali berkobar-kobar.
Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-NYA, keyakinan akan
semakin kokoh. Karena,
"Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamban-NYA...". [QS. Asy-Syuura : 19]
Allah : Nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling
indah, ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga.
"... Apakah kamu tahu ada seseorang yang sama dengan Dia
(yang patut disembah) ?"
[QS. Maryam : 65]
Allah : Milik-NYA semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan,
kemuliaan, kemampuan, dan hikmah.
"...Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa
lagi Maha Mengalahkan"
. [QS. Ghafir : 16]
Allah : dari-NYA semua kasih-sayang, perhatian, pertolongan, bantuan,
cinta dan kebaikan.
"Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah
datangnya... "
. [QS. An-Nahl : 53]
Allah : Pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan.
Betapapun kulukiskan keagungan-MU dengan deretan huruf,
Kekudusan-MU tetap meliputi semua arwah.
Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna,
akan lebur, mencair, di tengah keagungan-MU, wahai Rabbku.
Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan
kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi
rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju
keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.
Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam
ini rasa kantuk dari-MU yang menentramkan, tuangkan dalam jiwa yang
bergolak ini kedamaian, dan ganjarlah dengan kemenangan yang nyata.
Wahai Rabb, tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada
cahaya-MU, bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-MU
merapat ke hidayah-MU !
Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan
memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan
secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan
bantuan bala tentara-MU !
Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah
kegundahan dari jiwa kami semua !
Kami berlindung kepada-MU dari setiap rasa takut yang mendera,
hanya kepada-MU kami bersandar dan bertawakal, hanya kepada-MU
kami memohon, dan hanya dari-MU lah semua pertolongan.
Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah
sebaik-baik Pelindung dan Penolong.


Sumber : Buku LA TAHZAN (Pengarang : DR. Aidh Al-Qarmi)
(read more ...)






 

 

Pengemis saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Kenapa orang mau menjadi pengemis, kenapa sepertinya pengemis tidak pernah habis-habis bahkan mungkin terus bertambah, kenapa mereka bisa menjadi pengemis terus menerus selama bertahun-tahun dan tidak pernah berubah. Itulah segelintir pertanyaan yang ada dibenak saya, sekejam itukah dunia ini sehingga orang yang ’miskin’ sampai harus terus mengemis untuk memenuhi hak hidupnya.
 
Mungkin ini hanya pendapat saya saja bahwa mereka yang mengemis itu telah menjadikan bahwa mengemis itu sebagai pekerjaan atau profesi mereka. Apakah hal ini dapat dibenarkan? itu semua kembali kedalam diri kita masing-masing, akan tetapi kalau ditanya apakah mereka mau menjadi pengemis saya rasa semuanya menjawab tidak mau tetapi kondisi ekonomi merekalah yang memaksa untuk mengemis. Alasan itu dapat kita maklumi ketika mereka sudah berupaya untuk bekerja keras meminta bantuan orang lain seperti melamar kerjaan, meminjam sejumlah dana untuk modal usaha dan sebagainya tetapi tetap belum dapat hasil sedangkan kebutuhan jasmani mutlak harus dipenuhi segera. Akan tetapi hal tersebut tidaklah bisa dijadikan alasan untuk terus menerus mengemis selama bertahun-tahun, setelah kebutuhan jasmani tercukupi sementara kenapa tidak mencoba lagi untuk bekerja selayaknya sebagai manusia, makhluk yang paling mulia di alam ini yang memiliki akal untuk berpikir, hati untuk merasa, dan tubuh untuk bekerja Tidakkah kita malu terhadap binatang, binatang saja untuk memperoleh makanan mereka harus bekerja dahulu, seperti burung yang pagi hari keluar dari sarangnya untuk mengitari hutan hanya untuk makan pada hari itu kemudian pulang sore hari hari setelah perut terisi penuh. 
 
Terkadang saya sedih melihat mereka apalagi yang sudah lanjut usia masih meminta-minta, akan tetapi tak jarang pula saya marah ketika pengemis tersebut ternyata masih berbadan sehat dan muda, kemana saja akal pikiran dan tenaga yang telah dimilikinya itu digunakan.
Kalau dipikir-pikir dengan kita memberikan receh kepada mereka (terutama yang masih muda dan kuat) itu bukanlah membantu malah semakin menjerumuskan mereka kedalam mental peminta dan pemalas. Bayangkang saja, ketika satu orang/rumah memberikan Rp.100,- saja dikalikan 500 orang/rumah yang diminta, dalam satu hari mereka bisa memperoleh Rp.50.000 dikalikan 1 bulan mereka mampu mendapatkan uang sebesar Rp.1.500.000,- bersih tanpa modal apa-apa. Jumlah yang besar bukan itu kalau semuanya memberi seratus rupiah bagaimana jika lebih atau jumlah rumah yang dikunjungi lebih banyak sudah pasti mereka para pengemis lebih kaya dari pada mereka yang bekerja keras sebagai buruh misalnya yang dari pagi hingga sore hari tak jarang sampai malam banting tulang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
 
 
Mental merekalah yang harus dibenahi, rasa malu yang sudah menipis, dan wujud ketiadaan pengabdian kepada Sang Pencipta itulah yang menyebabkan mereka terus menerus melakukan kegiatan mengemis tersebut. Kita mungkin juga turut andil dengan membiarkan mereka seperti itu ketika memberikan receh kita dengan niat beramal. Tidak ada yang salah dengan niat kita tersebut akan tetapi menurut saya lebih baik kita membantu kepada mereka yang jelas-jelas membutuhkan bantuan kita seperti keluarga kita, tetangga, sahabat, atau orang yang paling dekat dengan lingkungan kita yang kita ketahui sangat layak dibantu  terlebih dahulu dibanding mereka yang di jalan-jalan atau yang ke rumah-rumah yang tidak kita ketahui  latar belakangnya. Saya sering berpikir jangan-jangan saya malah berdosa membantu mereka karena membantu mereka menjadi pemalas atau uang tersebut digunakan untuk maksiat seperti membeli minuman keras. 
 
Tak jarang kita melihat di televisi bahwa di kota-kota besar seperti jakarta mereka para pengemis memiliki kehidupan yang bisa dibilang layak seperti memiliki rumah, kendaraan, bahkan alat komunikasi seperti HP, pertanyaannya layakkah mereka kita golongkan sebagai pengemis dan dibantu. Seperti di dekat rumah saya ada anak remaja seusia anak SMA, dia tidak mau disuruh sekolah lebih baik mengemis di lampu merah katanya dapat uang dibanding sekolah yang membosankan, lain lagi teman saya bercerita ketika dia menawarkan seorang ibu yang rutin hampir setiap hari mengemis di daerah tempat ia membuka usaha rumah makan, ibu itu ia tawarkan untuk bekerja di rumah makannya sebgai pencuci piring apa jawaban ibu itu sungguh membuat kita emosi, ’gak mau ah mas nanti tangan saya lecet-lecet kena sabun gajinya juga kecil lebih enak lagi ngemis’ ujar ibu tersebut.
 
 
Sekarang semua tergantung kita, kalau kita tidak ingin pengemis terus meraja-lela di negara ini bantulah mereka dengan memberikan pekarjaan bukan dengan uang. Saya sependapat dengan pelawak Tukul Arwana yang berkata ’Kalau saya membantu orang bukan dengan memberikannya uang, uang kita berikan dengan sepantasnya saja dan kepada mereka yang memang membutuhkan bantuan finansial seperti modal usaha, akan tetapi saya akan memberikan bantuan berupa ilmu, keterampilan ataupun motivasi agar mereka bisa mandiri itu jauh lebih bermanfaat buat mereka dan buat kita sendiri sebagai ilmu yang bermanfaat bagi sesama bekal kita di akhirat kelak’.
 
Pengemis memang sudah ada dari dahulu kala, karena itulah agama kita juga memerintahkan kita untuk membantu mereka para kaum fuqara dan masakin. Akan tetapi bantuan yang memanjakan mereka saya rasa agama juga tidak berkenan. Apalagi saat ini agama sering dijadikan tameng sebagian dari mereka para pengemis untuk meminta-minta, lihat saja ketika ada even-even keagamaan pastilah para pengemis tersebut membanjiri tempat-tempat ibadah dan tak jarang mereka juga suka ’mengkambing-hitamkan’ agama dengan menambahkan embel-embel ayat suci ataupun doa dalam kegiatan mengemis mereka. Tanpa bermaksud membenci mereka yang terpaksa mengemis untuk melanjutkan hidup, hanya saja saya geram melihat mereka yang menjadikan mengemis sebagai profesi, setiap hari meminta-minta ketempat yang sama berulang-ulang seperti meminta jatah pajak saja. 
 
Apakah Tuhan sekejam itu membiarkan hambanya meminta-minta terus menerus?

artikel lainnya klik :KhudRizal Poenya Blog, Motivasi
(read more ...)



Hampir seluruh motivator, pengusaha sukses, ataupun teman-teman kita yang peduli dengan keadaan kita yang berusaha menasehati ketika kita dalam kondisi terpuruk untuk selalu berpikiran positif. Saya rasa kita semua sependapat kalau berpikiran positif telah mampu mengurangi sedikit permasalahan kita. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa dibalik masalah pastilah ada hikmah, ungkapan ini hasil dari berpikir positif. Dengan tetap berpikiran positif orang bisa menjadi tegar, mampu berpikir jernih untuk menyelesaikan masalahnya dan pada akhirnya bisa meraih kesuksesan hidup.


Kata-kata positif memang identik dengan hal-hal yang baik saja, berpikir positif, bertindak positif, berkelakuan positif yang artinya adalah kebaikan berfikir, bertindak, dan berkelakuan baik kepada sesama.


Terutama dalam dunia perniagaan, para pengusaha sukses selalu menekankan kepada para pengusaha pemula atau pun kepada mereka yang terus berusaha agar bisa menjadi pengusaha, agar harus selalu berfikir positif dalam menghadapi tantangan berdagang yang terkenal tidak mudah.


Tidak ada yang salah dari berfikiran positif, dan sayapun tidak bermaksud untuk menolak kebenaran tersebut. Hanya saja entah kenapa di dalam pemikiran saya terkadang berfikir positif ada kekurangannya bahkan bagi mereka yang terlalu berfikiran positif dapat menimbulkan bahaya terutama bagi dirinya sendiri. Mungkin bisa saya ambil contoh, ketika seseorang yang ingin berbisnis tetapi dia tidak memiliki cukup modal (dalam hal ini modal uang), relasi bisnis juga masih minim, terlebih dia sudah memiliki tanggung jawab (keluarga), karena seringnya dia mendapatkan ’wejangan’ untuk selalu berfikir positif dan mengikuti kata hati atau menjadi diri sendiri diapun ’nekat’ untuk membuka bisnis dan melepaskan hasil yang sudah biasa dia dapatkan. Hanya saja tindakan nekatnya ini tidak dibarengi pemikiran realistis hanya bermodal semangat dan positif thinking tadi dan yakin bahwa esok pasti lebih baik. Mungkin ada yg berhasil, akan tetapi pengalaman saya tak jarang yang justru ’mati’ usahanya, alaih-alih ingin mengurangi beban biaya hidup malah menambah masalah dan beban hidup. Ada kisah menarik mengenai kasus seperti ini yang ini dialami oleh teman saya sendiri, Ketika itu teman saya ini ya bisa dibilang cukup lumayan sukses dalam bisnis kontraktornya walaupun mungkin kelasnya masih kecil-kecilan, dari bisnisnya tersebut dia telah mampu kredit rumah, membeli mobil walaupun bekas, dan keluarganya pun tercukupi kebutuhannya. Suatu ketika dia mendapatkan tantangan dari seorang relasinya untuk menggarap sebuah proyek besar yaitu membangun gedung rumah sakit (untuk ukuran teman saya ini merupakan proyek besar karena jumlah nominalnya 1 M, sedangkan teman saya biasanya hanya bisa menggarap proyek bernilai 100 juta) dengan positif thinking (pantang untuk bilag tidak bisa) dan keyakinan yang dimilikinya diapun menyanggupi menerima proyek tersebut walaupun masih minim pengalaman dan juga mungkin karena iming-iming profit yang luar biasa yang selama ini belum pernah didapatnya. Diapun menggarap proyek tersebut dengan memaksakan kemampuan dana alias utang sana dan utang sini, memang dalam hal bisnis biasa untuk berhutang karena setelah proyek dilunasi hal tersebut bisa dilunasi. Waktu berlalu dan proyekpun selesai, apa yang terjadi selanjutnya ternyata dia ditipu, relasi yang memberikan proyek membawa kabur uang transaksi, karena hanya bermodal kepercayaan dia pun tidak bisa berbuat apa-apa karena tak ada bukti untuk diteruskan ke meja hijau.


Mungkin anda berpendapat hal itu biasa dalam dunia bisnis, di saat itulah diperlukan berfikir positif dan hikmahnya dia bisa belajar dari kasus tersebut dan lebih berhati-hati kedepannya. Tapi tahukah anda efeknya, bahwa hutang-hutangnya yang besar (kalau tidak salah jumlahnya ratusan juta) hampir membuat teman saya mau bunuh diri, disinilah letak bahaya yang saya maksud. Karena diawal dia terlalu berfikir positif dan optimis dengan mengabaikan realistis, akhirnya kebangkrutan dan masalah lainnya lah yang dia terima. Kalau seandainya diawal transaksi tersebut teman saya sedikit memiliki Pemikiran Negatif mungkin hal tersebut tidak terjadi, dengan berfikir negatif dia jadi lebih waspada, mungkin dengan membuat kontrak tertulis terlebih dahulu atau kroscek dengan user langsung dan banyak hal lainnya yang bisa dilakukan atau bahkan menolaknya terlebih dahulu karena pada saat itu kemampun perusahannya belum di tahap itu.


Banyak orang berpendapat musuh terbesar kita sebetulnya adalah pikiran negatif yang bersarang dalam pikiran kita. Saat kesulitan atau hambatan muncul, pikiran negatif itu mulai bekerja menghembuskan pikiran-pikiran buruk, mencari-cari pembenarannya, dan berujung pada sebuah penilaian atau bahkan penghakiman.
Mungkin benar adanya demikian, tetapi menurut saya dengan adanya pikiran negatif kita jadi lebih waspada, berhati-hati dan tidak terlalu gampang percaya kepada orang lain.


Saya yakin semua yang diciptakan Tuhan ada manfaatnya, apakah itu baik atau buruk, positif maupun negatif pastilah ada gunanya, keseimbanganlah yang membuat bumi ini bisa berjalan pada porosnya, kelebihan porsi pada satu sisi dan mengabaikan sisi yang lain tidaklah bisa berefek baik.


Akhirnya saya hanya bisa menyimpulkan, kita haruslah  berfikir positif dalam menjalani hidup agar senantiasa semangat dan survive, akan tetapi kita juga tetap harus memberikan ruang bagi pikiran negatif supaya bisa lebih waspada dan berhati-hati. Bagaimana menurut anda ?

KLIK JUGA http://chudrizal.blogspot.com/ untuk tulisan lainnya

(read more ...)



Meminta lebih banyak lagi, kalimat ini mungkin terkesan tidak tahu berterima kasih atau serakah, mungkin saja benar kalau kata-kata tersebut kita tujukan kepada sesama manusia akan tetapi maksud saya disini adalah kita harusnya selalu meminta lebih dan lebih lagi kepada Tuhan. Tuhan sendiri memerintahkan kita untuk selalu meminta sebagaimana firmanNya Berdoalah(memintalah) maka pasti akan ku kabulkan, jadi merupakan suatu keharusan untuk kita selalu meminta kepadaNya yang memiliki seluruh alam semesta ini, karena kita adalah bagian dari alam semesta ini bukankah sudah sewajarnya kita meminta kepada yang empunya.

Saya jadi teringat ketika salah satu teman atau yang sudah saya anggap sebagai abang saya dan pembimbing saya sendiri, dia berujar ’Kalau mau meminta kepada Tuhan itu mintalah yang sangat banyak kalau perlu seluruh isi alam semesta ini jadikan milik kita, toh Dia tahu yang terbaik buat kita tidak pun Dia kabulkan seluruhnya setidaknya separuh atau mungkin 1 % dari permintaan kita itu pasti akan dikabulkan, klo mau hitung-hitungan matematis misalkan kita minta dianugerahi kekayaan berjumlah 1 triliyun  jumlah yang banyak bukan untuk kalangan sederhana seperti kita yang pendapatannya masih cukup untuk kita sendiri dan keluarga saja, ternyata dikabulkan hanya separuhnya saja atau 500 juta kan masih banyak bahkan satu persennya saja masih banyak, jadi mintalah yang banyak bukan serakah tetapi sebagai wujud pengakuan kita kalau Dia yang memiliki segalanya dan kita hanya makhluk lemah yang tiada upaya tanpa bantuan-Nya. Jikalau kita tidak pernah meminta kepada-Nya sama sekali bahkan terkadang meminta kepada selain Dia, atau meminta pas-pasan saja untuk ukuran kita, dan kemudian ternyata dikasih separuhnya saja atau kurang dan akhirnya kurang dari kebutuhan kita, jadi salah siapa?’. Mungkin ucapan abang saya ini terdengar picisan atau subyektif, itu hak orang untuk menilai tetapi menurut saya tidak ada salahnya kita berpikiran seperti itu supaya ketika kita meminta kepada Tuhan itu kita tahu apa yang kita inginkan, arah tujuan kita dan yang terpenting  pengakuan kita akan kehadiran Tuhan didala m kehidupan kita, toh permintaan tersebut juga tidak merugikan siapa-siapa jadi wajar-wajar saja bukan.

Setiap hari kita pastilah sudah merasakan karunia Tuhan yang dianugerahkan kedalam kehidupan kita selama 24 jam non stop kita minta ataupun tidak, sudah selayaknya kita mensyukuri itu semua. Sudahkah anda mengucapkan puji syukur ketika bangun pagi sebelum memulai segala aktifitas sadar kita dihari itu, kemudian langsung beribadah kepadanya sebagai wujud dari rasa terima kasih kita. Menurut saya meminta dan bersyukur itu berkaitan erat, dan untuk membuktikan keduanya haruslah dengan upaya, ya upaya kitalah yang membuktikan apakah kita telah bersyukur dan kemudian berani meminta lebih kepada-Nya.

Upaya yang saya tekankan disini ada 2 faktor, Pertama upaya kita di dunia atau kegiatan sehari-hari seperti bekerja keras, berbuat kebaikan kepada sesama makhluk hidup, berbakti kepada orang tua dan seterusnya. Dan yang Kedua adalah upaya secara spiritual seperti beribadah menjalankan syariat-syariat agama, selalu menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya dan berbagai tuntunan agama lainnya yang mungkin belum bisa kita terima dengan akal sehat ataupun logika kita.

Banyak orang berkata tidak ada yang tidak bisa kita lakukan kalau kita mau bekerja keras dan pantang menyerah, itu semua benar akan tetapi itu hanya salah satu faktor penentu keberhasilan kita yang paling menentukan adalah keberuntungan. Semua orang di bumi ini pastilah mengakui kalau sesorang yang beruntung tidak ada yang bisa menandinginya. Banyak kisah orang-orang disekitar kita yang selalu beruntung, misalnya ketika memulai usaha tidak butuh waktu lama sudah bisa menuai hasil lebih sedangkan di tempat lain bertahun-tahun masih terus membenahi manajemen kekuangan yang selalu tambal sulam padahal bidang usahanya sama, metode bisnis sama bahkan namanya pun sama karena bisnis yang digeluti waralaba, apa yang kurang mungkin upaya yang keduanya, seperti yang saya maksud  diatas. Untuk memperoleh keberuntungan tidak ada lagi tempat selain Sang Maha Pemberi Keberuntungan.

Setelah kita bersyukur atas karunianya, kemudaian kita meminta lebih banyak lagi dan melakukan upaya bekerja keras dan selalu beribadah sebagai bukti kesungguhan kita akan rasa syukur dan keinginan kuat akan permintaan kita tersebut, maka biarkan Dia yang menentukan kapan waktunya kita untuk menerima wujud permintaan kita. Keyword yang mungkin bisa saya bagi melalui tulisan ini adalah kita cukup bersyukur, meminta, beribadah dan just do it. Semoga bermanfaat

tulisan menarik lainnya KLIK DISINI

(read more ...)



’Habiskan makananmu jangan suka membuang-buang makanan walaupun cuman sedikit, bersihkan isi piringmu itu mumbazir tau, kita harus bersyukur banyak orang di dunia ini yang sulit hanya untuk makan satu kali dalam sehari kamu sudah makan tiga kali sehari seenaknya aja buang-buang makanan, habiskan!’ Begitulah kira-kira ibuku berkata ketika aku tidak menghabiskan makan malamku. 

Nasihat (walaupun mungkin dalam penyampainnya sedikit marah) ibuku ini banyak benarnya, kita generasi muda yang sudah terbiasa hidup tercukupi kebutuhannya acap kali lalai untuk mensyukuri karunia-Nya dengan berperilaku boros dan membuang-buang. Sebagai contoh perilaku saya tadi, karena sudah kekenyangan terlalu banyak jajan diluar akhirnya ketika makan malam perut ini sudah tak kuasa menampungnya, akan tetapi karena melihat masakan ibu yang sedemikian nikmatnya nafsu untuk mencicipinya pun demikian hebatnya membuat aku mengambilnya dengan porsi yang tanpa perhitungan dan ketika tengah disantap kekenyangan pun mendera, sikap berlebih-lebihan yang tak patut ditiru (don’t try this at home).
Sikap boros ini pula tak jarang kita temui di sekitar kita, banyak diantara kita (mungkin termasuk saya juga) seringkali berlaku boros dalam penggunaan air, begitu melimpanhnya karunia air di negara kita membuat kita lupa kalau ada di belahan bumi lain bahwa banyak sekali orang yang sulit untuk mendapatkan air hanya untuk minum dan MCK. Kita disini sangatlah mudah mendapatkan air bukan hanya untuk MCK bahkan lebih dari itu, seperti mencuci kenderaan. Mencuci kendaraan memang bagus sebagai wujud nyata tidakan kita untuk merawat barang dan menjaga kebersihan, akan tetapi berlebih-lebihan dalam penggunaan air seperti menyiraminya berulang-ulang kali sungguh sikap pemborosan, belum lagi banyak kita temui keran-keran air di rumah tangga yang tidak dirawat dengan baik sehingga airnya terus saja menetes.
Perilaku-perilaku keseharian yang mungkin sering dianggap sepele oleh kita ini tak jarang berakibat fatal, seperti merokok (mohon maaf bagi para perokok) menurutku itu adalah salah satu contoh pemborosan. Saya sering mendengar kata-kata teman saya ’ lebih baik aku tidak makan satu hari dari pada tidak merokok’ wau sedemikian hebatnya pengaruh rokok padahal dia sadari atau tidak bahwa perilaku merokok adalah pemborosan dia secara tidak langsung membakar uang dalam nominal yang besar. Kita hitung saja 1 bungkus rokok harganya misalkan (yang paling murah walaupun setahu saya bisa lebih) Rp.5000, untuk satu hari dan 1 bulan pengeluaran untuk rokok Rp.150.000 dalam setahun berjumlah Rp.1.800.000,- jumlah yang lumayan besar bukan untuk perilaku pemborosan yang bisa merusak kesehatan kita.
Pemborosan atau berlebih-lebihan yang dalam bahasa agama disebut mumbazir, merupakan perilaku yang hanya membuat kita terlena dan merugikan diakhirnya. Saya rasa kita semua tahu akibat dari pemborosan tersebut hanya saja kita sering lupa bahwa kita sedang berperilaku boros karena terbuai oleh pemuasan nafsu sesaat.Masih banyak contoh perilaku boros dalam keseharian kita  anda mungkin lebih tahu ketimbang saya. Melalui tulisan ini saya ingin mengingatkan diri saya pribadi dan kepada pembaca sekalian untuk berlakulah hidup sederhana
 
Al-Quran pun menasehatkan kita  untuk hidup sederhana, menurut Al-Quran jalan yang terbaik adalah jalan tengah.
 
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. ( Al Furqaan: 67)
 
Tauladan kita untuk hidup sederhana tentu saja Rasululullah, meskipun Rasulullah mempunyai sumber kekayaan yang banyak, beliau tetap hidup secara sederhana yaitu berdasarkan keperluan-keperluan yang sederhana saja. Ini adalah suatu keteladanan yang sangat berharga untuk dicontoh dan diikuti. Bahkan keempat khalifah setelah beliau tetap mempertahankan hidup yang sederhana.
Anjuran Nabi ini tidak hanya terbatas pada pakaian saja tapi juga mencakup sandang, pangan, papan dan segala kebutuhan pokok. Begitu juga Allah melarang menjerat leher karena terlalu hemat sebagaimana dia melarang hambanya untuk hidup boros dan berpoya-poya, karena kedua sikap ini bertentangan dengan hidup sederhana.
 
Etika Hidup Sederhana
  • Sikap sederhana dalam membelanjakan uang pada saat krisis
Sikap yang baik adalah sikap yang sederhana dalam membelanjakan uang pada saat krisis. Inilah yang ditunjukkan oleh Al-Quran dalam kisah nabi Yusuf as.
 
Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.(QS. Yusuf: 47-48).
 
Ayat tersebut berisi pesan dan petunjuk kepada manusia agar mereka selamat dari krisis, dengan cara mengurangi barang yang dibelanjakan selama 7 tahun masa panen, agar kelak bisa digunakan pada masa krisis.
  • Sederhana dalam menggunakan uang negara Jika sifat sederhana dituntut dalam kehidupan pribadi, juga dituntut dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam membelanjakan uang negara. Ini berlaku bagi semua jajaran, mulai dari kepala negara, menteri, Gubernur, sampai jajaran tingkat bawah. Para pemimpin umat Islam sepantasnya menjadi suri tauladan bagi rakyat dalam menjauhi korupsi dan memamerkan kemewahan dan kemegahan.Pada masa kepemimpinannya, Nabi menolak tempat tidur yang empuk, bantal Nabi terbuat dari kumpulan sabut kelapa, sedangkan tikar yang beliau gunakan untuk tidur meninggalkan bekas dikulit tubuhnya. Saat meninggal dunia, beliau dalam keadaan berbaring ditempat tidur dengan menggunakan selimut kasar dan pakaian yang sangat sederhana. Begitu juga tindak-tanduk pemimpin umat Islam setelah Nabi, Abu Bakar r.a. Umar bin Khattab r.a, Usman bin Affan r.a, pada masa kepemimpinannya.
  • Islam mewajibkan umatnya bertindak moderat, mendahulukan yang primer daripada sekunder, mendahulukan sekunder daripada tersier, mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan golongan, dan mendahulukan kepentingan rakyat kecil daripada pejabat.
  • Menjauhi pemborosan dan memakan makanan secara sederhana, begitu juga pakaian dan tempat tinggal.

Semoga kita dapat menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari Tuhan pasti melindungi orang-orang yang ingin berperilaku baik dan benar, akhirnya aku cuma bisa bilang Jangan Lebay Pliss !

tulisan ini juga terdapat di: Khudrizal Poenya Blog

baca juga tulisan bermanfaat lainnya SILAHKAN KLIK DISINI

(read more ...)